Lab
Teater Ciputat bersama SPKP Samo-Samo, Teater Pasir Putih, dan Sanggar Apung
tengah melaksanakan program bernama “Pulang Babang; Rekonstruksi Budaya Masyarakat Pulau
Panggang-Pramuka”.
Kegiatan ini berlangsung sejak Oktober 2011 hingga Juli 2013, terdiri dari:
1,
RISET terkait budaya
masyarakat Pulau Panggang-Pramuka yang targetnya PENERBITAN BUKU (Pulang Babang I).
2, PENDAMPINGAN
PENGEMBANGAN WISATA BUDAYA KEPULAUAN SERIBU dan HAJATAN PULANG BABANG/PENTAS TEATER (Pulang
Babang II).
Riset dan penerbitan buku berjudul Orang Pulo di Pulau Karang telah
terlaksana dengan baik sesuai jadwal yaitu pada Februari 2012 atas dukungan
masyarakat Pulau Panggang-Pramuka, Sanggar Apung, Hivos, Pemkab Kepulauan
Seribu, dan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu.
Terhitung sejak September 2012 lalu
Pulang Babang telah masuk dalam tahap penyusunan naskah pertunjukan yang
berangkat dari legenda dan tradisi masyarakat Pulau Panggang-Pramuka (orang
Pulo). Naskah ini adalah bahan untuk pementasan pada acara puncak. Kami juga melaksanakan
PENDAMPINGAN PENGEMBANGAN WISATA KEPULAUAN SERIBU dengan bentuk kegiatan pelatihan teater setiap 1 pekan sekali serta pelatihan
terkait ekonomi kreatif dan lokakarya manajemen wisata budaya. Di samping itu, ada beberapa grup
kesenian yang kami undang untuk pentas di Pulau Panggang-Pramuka
Adapun, puncak acara yaitu HAJATAN
PULANG BABANG diisi dengan pertunjukan teater yang rencananya digelar pada Mei
2013 di Plasa Pulau Pramuka. Acara ini juga dimeriahkan dengan
bazar dan pameran kuliner serta
kerajinan masyarakat Kepulauan Seribu.
Pulang Babang adalah tradisi
masyarakat Kepulauan Seribu yang berarti kesadaran untuk pulang ke kampung
halaman setelah melaut untuk waktu yang lama. Kembali untuk keluarga dan
masyarakat dengan keberkahan rezeki yang dibawa.
Maka, kegiatan ini merupakan
wujud dari tanggung jawab masyarakat Pulau Panggang-Pramuka, juga pihak-pihak
terkait, untuk membangun kembali jati diri Pulau Panggang-Pramuka.
Semoga, dengan program Pulang Babang ini, budaya orang Pulo yang mulai luntur
dapat kembali dikenal oleh masyarakatnya, khususnya para pemuda. Tidak hanya itu, budaya
masyarakat Pulo (seni, sejarah, legenda, kerajinan, makanan khas) juga
berpotensi menambah ragam objek wisata, sehingga dapat menjadi alternatif mata
pencarian.